Perkembangan teknologi komunikasi digital telah mengubah pola komunikasi interpersonal, termasuk relasi antara santri dan orang tua di lingkungan pondok pesantren. Fenomena phubbing, yaitu perilaku mengabaikan lawan bicara karena lebih memilih fokus pada telepon genggam, berpotensi memunculkan krisis kehadiran sosial (social presence crisis) pada momen kunjungan orang tua yang semestinya menjadi ruang pemulihan kedekatan emosional antara santri dan orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana phubbing memunculkan krisis kehadiran sosial dalam komunikasi interpersonal santri dan orang tua di Pondok Pesantren Ngalah, mengkaji pengalaman kedua pihak terhadap dampak phubbing, serta menganalisis disonansi kognitif yang dialami santri ketika melakukan phubbing. Penelitian ini menggunakan paradigma interpretatif dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap sebelas informan yang terdiri atas pengurus asrama, santri, dan wali santri, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi pesantren memberi pengecualian tanpa batasan waktu penggunaan telepon genggam pada momen kunjungan, sehingga membuka ruang bagi santri untuk mengabaikan orang tua yang datang. Kehadiran fisik santri tidak selalu diikuti oleh kehadiran psikologis dan emosional, yang pada beberapa kasus berkembang menjadi perubahan pola komunikasi anak dalam jangka panjang. Fenomena ini turut menimbulkan disonansi kognitif pada santri, yang direduksi melalui dua strategi utama, yaitu rasionalisasi dan perubahan perilaku. Penelitian ini menyimpulkan bahwa regulasi pesantren perlu diperjelas dengan batasan waktu penggunaan telepon genggam saat kunjungan, disertai edukasi adab digital, agar momen kunjungan tetap bermakna sebagai ruang pemulihan komunikasi interpersonal antara santri dan orang tua.Kata-kata Kunci: phubbing; kehadiran sosial; komunikasi interpersonal; disonansi kognitif; pondok pesantren
Copyrights © 2026