Sektor pariwisata merupakan pilar ekonomi penting bagi Indonesia, namun tantangan pelestarian budaya seringkali terhambat oleh kerusakan fisik artefak sejarah. Kabupaten Bone memiliki warisan arsitektur yang luar biasa seperti Saoraja Bola Subbi’e, namun kondisinya saat ini tidak lagi utuh dan kehilangan nilai otentisitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk merancang kembali Kawasan Wisata Budaya Saoraja Bola Subbi’e dengan pendekatan Arsitektur Tradisional Bone guna membentuk sense of place yang kuat. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan analisis elemen fisik dan non-fisik arsitektur Bugis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan sense of place dapat dicapai melalui tiga aspek utama: penataan massa bangunan mengikuti orientasi kosmologi Bugis (kiblat dan arah terbit matahari), penerapan ornamen khas pada fasad sebagai simbol status sosial, serta pengaturan elevasi bangunan berdasarkan hierarki kasta. Perancangan ini diharapkan mampu menghidupkan kembali identitas budaya Kerajaan Bone dan meningkatkan daya tarik wisata daerah pasca-pandemi.
Copyrights © 2026