Pertumbuhan penduduk dan kepemilikan kendaraan di DKI Jakarta mendorong pembangunan transportasi massal di wilayah Glodok–Kota yang menimbulkan adanya rekayasa berupa penyempitan jalan dan pengalihan arus perlu dikaji akibatnya terhadap kinerja lalu lintas. Olehkarena itu, penelitian menganalisis kinerja lalu lintas pada ruas Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Gajah Mada, Simpang APILL Asemka-Kota, Simpang tanpa APILL Glodok, Jalinan Stasiun Jakarta Kota – Mangga Dua, dan Jalinan Mangga Dua – Pangeran Jayakarta di kawasan terdampak sebelum dan sesudah penerapan manajemen rekayasa lalu lintas berdasarkan PKJI 2023, serta merumuskan alternatif perbaikannya. Hasil analisis menunjukkan kenaikan derajat kejenuhan (??) pada Ruas Gajah Mada (semula 0,36 menjadi 0,63) dan Hayam Wuruk (semula 0,30 menjadi 0,42) tanpa lajur khusus Transjakarta. Pada simpang APILL Asemka-Kota lonjakan ?? pendekat Selatan simpang APILL hingga 540% akibat pembukaan arus masuk ke simpang pada saat proyek. Sebaliknya, penutupan akses Simpang Glodok berhasil menurunkan ?? sebesar 64,21% menjadi 0,34. Pada jalinan, derajat kejenuhan berkisar 0,40 (Stasiun JakartaKota–Mangga Dua) hingga 0,72 (Mangga Dua–Pangeran Jayakarta). Sebagai solusi, penerapan kanalisasi pada simpang tanpa APILL Glodok menurunkan ?? menjadi 0,31 dan penyederhanaan fase APILL dari 4 menjadi 3 fase terbukti paling efektif menekan ?? seluruh pendekat simpang ke angka optimal (0,30–0,38) serta memberikan kontribusi teoritis dan praktis bagi manajemen lalu lintas kawasan. Kata Kunci: Analisis Kinerja, Jalan, Simpang, Jalinan, APILL, Kapasitas, PKJI 2023
Copyrights © 2026