Serat alam berpotensi meningkatkan kinerja campuran beraspal sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan tambah sintetis. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh panjang dan kadar serat kenaf terhadap karakteristik Marshall campuran asphalt concrete-wearing course (AC-WC) dan menentukan kombinasi yang memenuhi seluruh persyaratan kinerja. Aspal penetrasi 60/70 dan agregat terlebih dahulu dikarakterisasi. Kadar aspal optimum sebesar 6,5% ditetapkan dari seri kadar aspal 5%, 6%, dan 7% menggunakan metode grafik pita. Rancangan faktorial 3 x 3 terdiri atas panjang serat 6, 8, dan 10 mm serta kadar serat 0,2%, 0,3%, dan 0,4% terhadap berat agregat kering, dengan tiga ulangan untuk setiap kombinasi. Serat dikeringkan pada suhu ruang selama 24 jam, dicampurkan pada 160 °C, dan benda uji dipadatkan sebanyak 75 tumbukan pada setiap sisi. Parameter yang dianalisis meliputi VIM, VMA, VFB, stabilitas, flow, dan Marshall quotient (MQ). Dua kombinasi memenuhi seluruh batas rata-rata Bina Marga 2025, yaitu 8 mm/0,3% dan 10 mm/0,3%. Kombinasi 10 mm/0,3% dipilih karena menghasilkan stabilitas lebih tinggi, dengan VIM 4,67%, VMA 18,23%, VFB 74,63%, stabilitas 1.369,59 kg, flow 3,87 mm, dan MQ 355,08 kg/mm. Stabilitas tertinggi terjadi pada 10 mm/0,4%, tetapi kombinasi tersebut tidak memenuhi batas VIM, VFB, dan flow. ANOVA dua arah menunjukkan bahwa panjang serat berpengaruh signifikan terhadap VFB, stabilitas, flow, dan MQ; kadar serat hanya berpengaruh terhadap flow; dan seluruh interaksi tidak signifikan. Hasil ini menunjukkan bahwa optimasi serat kenaf harus mempertimbangkan seluruh respons Marshall, bukan stabilitas saja. Kata kunci: AC-WC, serat kenaf, uji Marshall, panjang serat, bahan tambah alami, ANOVA dua arah.
Copyrights © 2026