Studi peramalan harga beras menengah di Jawa Barat selama ini sebagian besar mengandalkan pendekatan satu model tanpa evaluasi out-of-sample yang sistematis, sehingga kinerja prediktif komparatif dari berbagai model deret waktu yang bersaing dalam kondisi peramalan yang realistis belum diteliti. Penelitian ini mengatasi kesenjangan tersebut dengan membandingkan lima model deret waktu, yaitu Seasonal Naïve, ARIMA (1,1,1), Additive Holt-Winters ETS, SARIMA (0,1,1) (0,1,1,12), dan SARIMA (1,1,1) (1,1,1,12) untuk harga beras medium bulanan di Provinsi Jawa Barat. Data diperoleh dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) yang mencakup periode April 2017 hingga November 2025, terdiri dari 104 pengamatan bulanan. Kinerja model dievaluasi menggunakan prosedur jendela yang diperluas selama periode uji 21 bulan (Maret 2024 – November 2025) berdasarkan tiga metrik akurasi: MAE, RMSE, dan MAPE. Hasil menunjukkan bahwa ARIMA (1,1,1) secara konsisten mengungguli semua model pesaing, dengan mencapai MAE sebesar Rp 92,63/kg, RMSE sebesar Rp 169,47/kg, dan MAPE sebesar 0,62%, yang diklasifikasikan sebagai sangat akurat berdasarkan kriteria Lewis (1982). Temuan ini menunjukkan bahwa, dalam periode evaluasi yang ditandai oleh gangguan pasokan akibat El Niño dan perubahan kebijakan HET pemerintah, spesifikasi ARIMA non-musiman mencapai akurasi out-of-sample yang lebih unggul dibandingkan model SARIMA yang memasukkan komponen musiman historis, pola ini sejalan dengan kemungkinan bahwa gangguan musiman selama periode anomali membatasi keunggulan prediktif spesifikasi model musiman. Model dengan kinerja terbaik kemudian diterapkan untuk meramalkan harga beras untuk periode Desember 2025 - November 2026, dengan proyeksi harga yang relatif stabil di sekitar Rp. 14.809/kg. Temuan ini memberikan informasi awal yang dapat ditindaklanjuti bagi pemangku kepentingan regional dalam pemantauan dan pengelolaan harga beras jangka pendek.
Copyrights © 2026