Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan penyakit progresif dan irreversible yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal secara bertahap sehingga memerlukan terapi pengganti ginjal, salah satunya hemodialisis, dalam jangka panjang. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan masalah fisik, tetapi juga berdampak pada aspek psikologis pasien, terutama kecemasan yang dapat memengaruhi kualitas hidup dan kepatuhan terhadap terapi. Spiritual well-being merupakan salah satu aspek penting yang dapat membantu pasien dalam menghadapi penyakit kronik, meningkatkan kemampuan beradaptasi, serta memberikan makna dan harapan selama menjalani pengobatan. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dimensi spiritual well-being dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSU Royal Prima Medan. Metode penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 145 pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSU Royal Prima Medan tahun 2026. Sampel sebanyak 59 responden diperoleh menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Spiritual well-being diukur menggunakan kuesioner FACIT-Sp-12, sedangkan tingkat kecemasan diukur menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman Rank. Hasil analisis Spearman Rank menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara dimensi spiritual well-being dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis (r = -0,340; p = 0,008). Kesimpulan terdapat hubungan signifikan antara dimensi spiritual well-being dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSU Royal Prima Medan. Semakin tinggi spiritual well-being yang dimiliki pasien, maka semakin rendah tingkat kecemasan yang dialami.
Copyrights © 2026