Meskipun cakupan Asuransi Kesehatan Nasional terus diperluas, kesenjangan dalam pemanfaatan layanan kesehatan masih tetap ada di antara provinsi-provinsi di Indonesia. Dengan menggunakan data agregat dari 34 provinsi untuk periode 2021–2023 dari Badan Pusat Statistik (BPS), penelitian ini mengkaji dampak keluhan kesehatan, gangguan aktivitas, dan cakupan asuransi kesehatan terhadap penggunaan layanan rawat jalan dan rawat inap. Kerangka kerja Model Perilaku Andersen digunakan untuk menguji hubungan kausal antar variabel menggunakan pemodelan persamaan struktural kuadrat terkecil parsial (PLM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan rawat jalan dipengaruhi secara signifikan oleh keluhan kesehatan (p=0,041), gangguan aktivitas (p=0,001), dan cakupan asuransi kesehatan (p=0,005). Selain itu, pemanfaatan rawat jalan memiliki dampak signifikan baik pada pemanfaatan rawat jalan berbasis asuransi kesehatan (p=0,002) maupun perawatan rawat inap (p=0,000). Pengaruh keluhan kesehatan (p=0,041) dan gangguan aktivitas (p=0,032) terhadap perawatan rawat inap dimediasi oleh perawatan rawat jalan, menurut pengujian efek tidak langsung. Menurut nilai R2, model tersebut menjelaskan 23% variasi dalam pemanfaatan asuransi kesehatan, 27% variasi dalam perawatan rawat jalan, dan 31% variasi dalam perawatan rawat inap. Hasil tersebut memverifikasi bahwa layanan rawat jalan berfungsi sebagai jembatan menuju layanan yang lebih maju serta sebagai pintu gerbang menuju sistem perawatan kesehatan. Untuk memaksimalkan penggunaan layanan kesehatan berbasis asuransi di tingkat provinsi dan meningkatkan efektivitas sistem rujukan, akses dan kualitas perawatan rawat jalan harus diperkuat.
Copyrights © 2026