tulisan ini berngakat dari persoalan dalam diskurusus digital yang keraf diwarnai dengan sentimen, retorika emosional dan kecenderungan untuk mengutamakan kepentingan tertentu dari pada mencari kebenaran bersama serta tidak menghargai perbedaan pendapat. Akibatnya, dialog mengalami distorsi komunikasi dan melemahnya dialogis, sehingga tidak menghasilkan ilmu pengetahuan yang rasional, dangkal dan tidak koheren. Atas dasar itu, tulisan ini bertujuan untuk mendalami teori tindakan komunikatif Habermas dan relevansinya dalam proses pembentukan ilmu pengetahuan yang sahih dan rasional dalam diskursus di ruang publik digital. tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Data kumpulakan melalui buku dan artikel ilmiah yang membahas teori tindakan komunikatif, filsafat ilmu dan referensi relevan lainnya. Penelitan ini menunjukkan bahwa tindakan komunikatif Habermas memiliki relevansi krusial dalam proses pembentukan ilmu pengetahuan dalam diskursus digital. penegtahuan yang logis dibentuk melalui dialog yang terbuka, bebas dari dominasi dan inetrsubjektif, yang memungkinkan setiap peserta untuk mencari kebenaran serta pemahaman timbal balik. Selanjutnya, pentingya menerapkan prinsip kalim validitas yang menekankan kebenran, ketepatan normatif, keiklasan dan kejelasan, sebagai syarat penting yang wajib dipenuhi agar menghasilkan ilmu pengethuan yang lebih rasional, kritis dan dapat dipertanggung jawabkan.
Copyrights © 2026