Abstrak Pendidikan formal nasional yang seragam dan terpusat kerap gagal menjangkau kebutuhan masyarakat adat, termasuk Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, yang hidup semi-nomaden dan memiliki sistem pengetahuan tersendiri. Dari kondisi ini lahir Sokola Rimba, gerakan pendidikan alternatif yang dirintis oleh Butet Manurung sejak 2003, dengan pendekatan belajar yang kontekstual, dialogis, dan berbasis kebutuhan nyata komunitas. Penelitian ini bertujuan menelaah gerakan Sokola Rimba melalui perspektif pendidikan pembebasan Paulo Freire. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui metode studi kepustakaan (library research), dengan sumber data primer berupa karya-karya Freire dan publikasi mengenai Sokola Rimba, serta sumber sekunder berupa artikel ilmiah dan referensi terkait. Data dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis) secara kualitatif-interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya keselarasan kuat antara praktik Sokola Rimba dan empat pilar pemikiran Freire: pendidikan sebagai praktik pembebasan (praxis), pendekatan dialogis, humanisasi, dan penumbuhan kesadaran kritis (conscientização). Sokola Rimba menolak kurikulum baku dan posisi guru sebagai pemberi pengetahuan tunggal, serta menempatkan Orang Rimba sebagai subjek aktif yang menentukan arah pendidikannya sendiri demi mempertahankan identitas dan kedaulatan budaya mereka, bukan untuk diasimilasi ke dalam budaya dominan. Penelitian ini semakin menegaskan posisi gerakan Sokola Rimba bukan sekadar kisah inspiratif, melainkan praktik pendidikan kritis yang secara filosofis mendekonstruksi logika pendidikan yang menindas, sekaligus memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi pengembangan model pendidikan inklusif bagi masyarakat adat di Indonesia. Kata Kunci: Sokola Rimba; Paulo Freire; pendidikan pembebasan; pendidikan kritis; Orang Rimba
Copyrights © 2026