Fenomena tidur setelah Subuh semakin umum terjadi pada masyarakat modern dan sering dipengaruhi oleh perubahan pola hidup digital, kebiasaan begadang, serta ketidakteraturan ritme aktivitas harian. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka (literature review) dengan pendekatan integratif-interdisipliner yang menggabungkan perspektif Islam dan sains biologi modern. Data diperoleh dari Al-Qur'an, hadis, serta berbagai artikel ilmiah bereputasi yang membahas ritme sirkadian, kronobiologi, neuropsikologi, neuroendokrinologi, dan fenomena tidur setelah Subuh, kemudian dianalisis secara deskriptif-kualitatif melalui sintesis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fase fajar merupakan periode transisi biologis penting yang ditandai dengan penurunan melatonin, peningkatan kortisol, aktivasi sistem saraf pusat, serta sinkronisasi berbagai mekanisme metabolik dan kognitif. Kebiasaan tidur kembali setelah Subuh berpotensi mengganggu stabilitas ritme sirkadian, memperpanjang inersia tidur, menurunkan kesiapan kognitif, serta mempengaruhi regulasi emosi dan produktivitas harian. Selain itu, perubahan budaya digital dan waktu sosial modern turut memperkuat desinkronisasi antara ritme biologis dan pola kehidupan manusia. Kajian ini menunjukkan bahwa anjuran optimalisasi waktu pagi dalam perspektif Islam memiliki korespondensi yang kuat dengan mekanisme biologis tubuh manusia, sehingga waktu pagi dapat dipahami sebagai fase penting bagi sinkronisasi kesadaran, fungsi fisiologis, dan kesiapan aktivitas harian.
Copyrights © 2026