Pembentukan keterikatan emosional, psikologis dan persepsi seseorang atau masyarakat terhadap suatu tempat, pada saat ini tidak hanya berdasarkan atas pengalaman berinteraksi secara fisik, namun hamper selalu berpadu dengan penggunaan teknologi digital. Kajian ini menganalisis praktik digital placemaking dalam pembentukan sense of place pada ruang publik Berangau Park Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Berangau Park merupakan ruang terbuka hijau yang dibangun PT Bukit Asam Tbk pada kawasan bekas aktivitas pertambangan sebagai bagian dari program Tanjung Enim Kota Wisata. Penelitian menggunakan paradigma konstruktivis dengan pendekatan studi kasus Robert E. Stake untuk memahami transformasi ruang pascatambang melalui aktivitas sosial dan komunikasi digital masyarakat. Data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam dengan key informants, observasi, studi pustaka, dan dokumentasi perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi Berangau Park menghasilkan perubahan identitas kawasan dari ruang industri menjadi ruang sosial masyarakat. Praktik digital placemaking berkembang melalui aktivitas olahraga, rekreasi, interaksi komunitas, serta penggunaan media sosial seperti TikTok dan Instagram dalam produksi konten digital pengunjung. Aktivitas tersebut membentuk pengalaman emosional masyarakat terhadap ruang publik dan memperkuat sense of place pada kawasan pascatambang. Selain itu, keterlibatan PTBA dalam publikasi digital dan komunikasi keberlanjutan turut memperkuat representasi identitas baru Berangau Park sebagai ruang publik masyarakat Tanjung Enim.
Copyrights © 2026