Tangerang Raya, yang mencakup Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang, mengalami urbanisasi pesat dalam satu dekade terakhir yang mendorong perluasan area terbangun secara signifikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan area terbangun dari tahun 2014–2023 menggunakan indeks NDBI (Normalized Difference Built-up Index) serta mengidentifikasi keterkaitannya dengan tingkat bahaya kekeringan. Metode penelitian mengombinasikan analisis spasial citra satelit Landsat 8 OLI USGS dengan pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk penyusunan peta bahaya kekeringan berdasarkan variabel penggunaan lahan, kemiringan lereng, jenis tanah, dan curah hujan. Integrasi AHP dan analisis spasial digunakan untuk mengidentifikasi tipologi hubungan antara bahaya kekeringan dengan pertumbuhan lahan terbangun. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan area terbangun yang masif. Luas area terbangun pada kelas permukiman padat meningkat lebih dari 120% antara tahun 2014-2023, berdasarkan rerata Kawasan Perkotaan Tangerang Raya. Pertumbuhan ini terjadi terutama di kawasan perkotaan dan sepanjang jaringan infrastruktur utama, yang meluas hingga wilayah pinggiran. Pertumbuhan terpadat terjadi di Pamulang, Pondok Aren, Ciputat, Larangan, dan Ciledug, serta wilayah Pagedangan, Sindang Jaya, dan Tigaraksa di Kabupaten Tangerang. Pertumbuhan tersebut berkorelasi positif dengan peningkatan indeks bahaya kekeringan, sehingga diperlukan perencanaan tata ruang yang berkelanjutan dan berbasis mitigasi risiko di Tangerang Raya.
Copyrights © 2026