Perkotaan Galing ditetapkan sebagai Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) dan memiliki posisi strategis sebagai kawasan penyangga perbatasan Indonesia–Malaysia yang dilalui oleh jalan nasional. Kondisi tersebut membuka peluang pengembangan kawasan sebagai pusat pertumbuhan baru, namun pengembangannya masih menghadapi kendala berupa rendahnya kualitas aksesibilitas serta belum optimalnya pemanfaatan fasilitas ekonomi yang telah tersedia. Penelitian ini bertujuan memetakan potensi dan kendala pengembangan Perkotaan Galing serta merumuskan arahan pengembangannya sebagai pusat pertumbuhan baru kawasan perbatasan. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods melalui analisis deskriptif, Location Quotient (LQ), serta analisis indeks aksesibilitas dan mobilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perkotaan Galing memiliki sektor basis pada komoditas hortikultura, perkebunan, peternakan, dan perikanan yang didukung oleh posisi strategis di koridor jalan nasional perbatasan. Namun demikian, rendahnya indeks aksesibilitas dan mobilitas, kondisi jaringan jalan yang belum memenuhi standar, serta keterbatasan konektivitas antarwilayah akibat belum tersedianya jembatan menjadi kendala utama pengembangan kawasan. Berdasarkan temuan tersebut, arahan pengembangan difokuskan pada optimalisasi pasar rakyat sebagai pusat komoditas lokal yang dilengkapi rest area, peningkatan kapasitas pengolahan hasil pertanian, serta pengembangan infrastruktur jalan dan jembatan untuk memperkuat fungsi Perkotaan Galing sebagai pusat pertumbuhan baru penyangga kawasan perbatasan.
Copyrights © 2026