Inflasi pangan merupakan salah satu indikator penting inflasi daerah karena berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat, khususnya di wilayah yang sangat bergantung pada sektor pertanian seperti Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Pergerakan inflasi pangan dipengaruhi oleh perubahan harga komoditas pangan serta faktor eksternal lain, termasuk kondisi iklim. Penelitian ini bertujuan membangun model peramalan inflasi pangan di Provinsi NTB menggunakan pendekatan Autoregressive Integrated Moving Average with Exogenous Variables (ARIMAX), dengan memasukkan harga komoditas pangan dan curah hujan sebagai variabel penjelas. Data yang digunakan berupa data bulanan periode 2018–2024 yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hasil analisis menunjukkan bahwa kenaikan harga komoditas pangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap inflasi pangan, sedangkan curah hujan tidak berpengaruh signifikan dalam jangka pendek. Kinerja model menghasilkan Mean Absolute Error (MAE) sebesar 0,357 dan Root Mean Square Error (RMSE) sebesar 0,478, dan hasil pengujian diagnostik residual menunjukkan bahwa model ARIMAX memenuhi persyaratan model untuk analisis yang valid. Berdasarkan hasil peramalan, inflasi pangan di Provinsi NTB pada periode 2025–2026 diproyeksikan relatif stabil pada tingkat moderat.
Copyrights © 2026