Pendidikan inklusif memerlukan prioritas implementasi yang jelas karena sekolah dan pemangku kebijakan sering menghadapi keterbatasan sumber daya, kapasitas guru, infrastruktur, teknologi bantu, dan dukungan kelembagaan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model sistem pendukung keputusan untuk menentukan prioritas strategi pendidikan inklusif bagi peserta didik penyandang disabilitas menggunakan integrasi metode Entropy dan Weighted Aggregated Sum Product Assessment (WASPAS). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis Multi-Criteria Decision Making dengan mengevaluasi delapan alternatif strategi berdasarkan sepuluh kriteria. Data diperoleh dari penilaian tiga pakar dan diagregasi menjadi matriks keputusan. Metode Entropy digunakan untuk menghasilkan bobot objektif berdasarkan keragaman data, sedangkan WASPAS digunakan untuk menentukan peringkat alternatif melalui kombinasi Weighted Sum Model dan Weighted Product Model. Kebaruan penelitian ini terletak pada formulasi model prioritisasi pendidikan inklusif yang mengintegrasikan pembobotan objektif, pemeringkatan multikriteria, dan pengujian kestabilan hasil dalam satu kerangka pengambilan keputusan. Hasil menunjukkan bahwa risiko implementasi memperoleh bobot tertinggi sebesar 0,3110, diikuti biaya implementasi sebesar 0,3055. Strategi penguatan kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan komunitas disabilitas menjadi prioritas utama dengan nilai sebesar 0,9693, diikuti pelatihan guru sebesar 0,9125, adaptasi kurikulum dan asesmen sebesar 0,8494, serta peningkatan sistem identifikasi kebutuhan peserta didik sebesar 0,8043. Analisis sensitivitas pada nilai ? 0,00–1,00 menghasilkan urutan peringkat yang identik tanpa rank reversal, sehingga model stabil dan robust terhadap perubahan proporsi WSM dan WPM. Kontribusi ilmiah penelitian ini berupa model komputasional yang objektif, transparan, dan dapat direplikasi sebagai dasar pengembangan aplikasi sistem pendukung keputusan pendidikan inklusif.
Copyrights © 2026