Fenomena kehidupan modern menghadirkan tuntutan produktivitas yang semakin tinggi sehingga individu sering mengabaikan kebutuhan tubuh untuk beristirahat. Kondisi tersebut menyebabkan tubuh mengalami kelelahan fisik maupun mental serta kehilangan ruang refleksi terhadap dirinya sendiri. Artikel ini membahas proses penciptaan karya tari kontemporer JEDA sebagai representasi simbolis ruang henti tubuh di tengah budaya produktivitas. Penciptaan karya menggunakan metode praktik berbasis penelitian (practice-based research) melalui tahapan observasi, eksplorasi, improvisasi, pembentukan, dan evaluasi. Landasan konseptual memanfaatkan teori tubuh, teori tari kontemporer, komposisi gerak Rudolf Laban, serta semiotika Umberto Eco. Hasil penciptaan menunjukkan bahwa konsep jeda diwujudkan melalui gerak repetitif, tempo lambat, penahanan gerak, momen diam, serta penggunaan ruang yang berubah secara bertahap. Unsur-unsur tersebut menghadirkan pengalaman estetik yang menafsirkan jeda bukan sebagai bentuk kemunduran, melainkan sebagai penghargaan terhadap tubuh dan ruang pemulihan diri. Karya JEDA menawarkan refleksi kritis mengenai relasi tubuh, waktu, dan produktivitas dalam kehidupan kontemporer.
Copyrights © 2026