Konsep tauhid dalam pemikiran Ismail Raji al-Faruqi menjadi fondasi filosofis utama bagi rekonstruksi epistemologi Islam di tengah krisis dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia. Melalui paradigma Islamization of Knowledge, al-Faruqi menegaskan bahwa tauhid tidak hanya berfungsi sebagai doktrin teologis, tetapi juga sebagai asas ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang menyatukan wahyu, akal, dan realitas empiris. Dalam kerangka ini, tauhid dipahami sebagai prinsip kesatuan dalam keberadaan dan pengetahuan, yang menuntun manusia untuk memandang seluruh cabang ilmu sebagai manifestasi keesaan Tuhan. Pemikiran al-Faruqi merespons krisis modernitas dan sekularisme yang menyingkirkan nilai-nilai spiritual dari struktur pengetahuan dengan menawarkan sistem pendidikan dan metodologi ilmiah berbasis nilai Ilahi. Secara praktis, gagasan ini mendorong rekonstruksi kurikulum pendidikan Islam yang integratif, memadukan wahyu dan rasionalitas untuk membentuk insan kamil yang holistik secara spiritual, moral, dan intelektual. Dengan demikian, pemikiran tauhid al-Faruqi relevan sebagai paradigma alternatif bagi pembaruan peradaban Islam yang mampu menjawab tantangan globalisasi, sekularisasi, dan fragmentasi ilmu pengetahuan.
Copyrights © 2026