Negara dikatakan maju jika memiliki tingkat penguasaan teknologi tinggi (high technology), sedangkan negara-negara yang tidak bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi sering disebut sebagai negara gagal (failed country) (Ngafifi, 2014). Salah satu teknologi yang berkembang adalah pada sistem pembayaran. Beragam transaksi pembayaran dilakukan model cashless, bahkan kegiatan bertransaksi keuangan dalam kehidupan sehari–hari sudah banyak dilakukan menggunakan smartphone agar lebih mudah, cepat untuk dijangkau dalam melakukan transaksi pembelian terhadap suatu produk maupun jasa. Tujuan penelitian ini secara umum dilakukan untuk melihat adopsi pengguna sistem dompet digital (E-Wallet) pada mahasiswa pascasarjana di Purwokerto menggunakan pendekatan TAM (Technology Acceptance Model). Sampel penelitian adalah mahasiswa pascasarjana di Purwokerto dengan rentan usia 20–50 tahun. Analisis yang dilakukan non probability sampling dengan uji non parametrik atau Uji Kruskal Wallis. Responden sebanyak 188 mahasiswa pascasarjana. pada penelitian ini tingkat penggunaan dompet digital didominasi pada rentan usia 31-35 tahun, 87% berlatarbelakang telah bekerja sebagai pegawai negri dan pegawai swasta yang sudah memiliki pendapatan, dan sedang melakukan studi lanjut, dengan mayoritas adalah berjenis kelamin perempuan dengan jumlah 98 orang atau sebesar 52,13% dan laki-laki dengan jumlah 90 dengan presentase sebesar 47,87% Kategori penggunaan dompet digital awalnya terbagi menjadi dua : Independen (OVO, DANA, LinkAja): digunakan oleh 29% responden, Tertanam dalam ekosistem (ShopeePay, GoPay): digunakan oleh 41% responden, adapun sisanya adalah temuan baru dari penelitian ini yaitu mengkombinasi kedua kategori sebanyak 30% responden.
Copyrights © 2026