Tulisan ini membahas unifikasi bacaan al-Qur’an dari masa Nabi Muhammad SAW hingga pada masa Khalifah Utsman bin Affan dan sesudahnya. Fokus utama terletak pada bagaimana unifikasi bacaan dilakukan demi menjaga keautentikan dan keseragaman bacaan di tengah keragaman dialek Arab. Penulis mengkaji proses penyusunan mushaf Utsmani, respon terhadap qira’at non-kanonik, serta pengaruh ijma’ ulama dalam menetapkan bacaan mutawatir. Penelitian ini mengungkap bahwa proses unifikasi membawa manfaat sekaligus tantangan, yakni antara menjaga kemurnian wahyu dan menyikapi ragam tradisi bacaan yang sah. Dengan menelaah karya Taufik Adnan Amal, artikel ini mengkritisi kecenderungan taqlid dan menekankan pentingnya pendekatan moderat dalam menyikapi perbedaan qira’at.
Copyrights © 2025