This study examines language variation and the use of forms of address in social interactions among students at Ibnu Utsman Boarding School, focusing on the ideologies embedded in and reproduced through everyday communicative practices within the pesantren environment. The study explores how linguistic practices reflect social values, politeness, and hierarchical relationships among students, male and female teachers (ustadz and ustadzah), and caregivers. A qualitative descriptive approach was employed using sociolinguistic discourse analysis, with data collected through participant observation of language use in various daily pesantren activities. The findings reveal the presence of socially and religiously loaded language variations and address systems, such as the use of ustadz and ustadzah for female teachers and ustad or buya for senior male teachers. In addition, pesantren-specific terms such as ngaos, storan hafalan, and ngaji binadhor were found to represent direct Qur’anic learning practices conducted face-to-face with teachers, indicating close pedagogical relationships between teachers and students. These language variations function not only as tools of communication but also as markers of politeness norms, group identity, and hierarchical structures within the pesantren community, contributing to the formation of harmonious and ethical social relations in Islamic Boarding School education. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji variasi bahasa dan penggunaan sapaan dalam interaksi sosial santri di Ibnu Utsman Boarding School dengan fokus pada ideologi yang terkandung dan direproduksi melalui praktik komunikasi sehari-hari di lingkungan pesantren. Kajian ini menelaah cara berbahasa santri yang merefleksikan nilai-nilai sosial, kesantunan, serta hubungan hierarkis antara santri, ustadz, ustadzah, dan pengasuh. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis wacana sosiolinguistik, sedangkan data dikumpulkan melalui observasi partisipatif terhadap interaksi kebahasaan dalam berbagai aktivitas rutin pesantren. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi bahasa dan sistem sapaan yang sarat muatan sosial dan religius, seperti penggunaan sapaan ustadz dan ustadzah untuk guru perempuan serta ustad atau buya untuk guru laki-laki senior. Selain itu, ditemukan istilah khas pesantren seperti ngaos, storan hafalan, dan ngaji binadhor yang merepresentasikan pembelajaran Al-Qur’an secara langsung di hadapan guru dan menunjukkan kedekatan relasi antara pengajar dan santri. Variasi bahasa tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menegaskan norma kesantunan, identitas kelompok, dan struktur hierarki dalam komunitas pesantren, sehingga penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam memahami peran bahasa dalam membentuk relasi sosial yang harmonis dan beradab di lingkungan pendidikan pesantren.
Copyrights © 2026