Campak masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia meskipun program imunisasi telah dilaksanakan secara luas. Penurunan cakupan imunisasi selama pandemi COVID-19 meningkatkan risiko terjadinya immunity gap yang berpotensi memicu peningkatan kejadian campak. Penelitian ini bertujuan menyusun dan memetakan skor risiko komposit campak pada 34 provinsi di Indonesia tahun 2022 berdasarkan 4 indikator kesehatan menggunakan sistem informasi geografis (GIS). Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan data sekunder dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2022 dan Badan Pusat Statistik. Variabel dependen adalah kejadian campak, sedangkan variabel independen meliputi cakupan imunisasi campak, cakupan vitamin A, cakupan ASI eksklusif, dan kepadatan penduduk. Setiap variabel diberi skor 1–3 berdasarkan ambang risiko yang telah ditetapkan, kemudian dijumlahkan menjadi skor komposit dan divisualisasikan secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan skor komposit, 33 provinsi termasuk kategori risiko sedang dan 1 provinsi (Nusa Tenggara Barat) termasuk kategori risiko rendah; tidak terdapat provinsi yang berisiko tinggi. Aceh merupakan provinsi dengan skor risiko tertinggi (skor 12), ditandai oleh rendahnya cakupan imunisasi campak (52,9%), cakupan ASI eksklusif (49,4%), serta cakupan vitamin A yang belum optimal (89,2%). Sebaliknya, Nusa Tenggara Barat memiliki skor risiko terendah (skor 5) dengan capaian keempat indikator yang lebih baik. Sebagai analisis pelengkap, regresi linier berganda pada log-transformasi proporsi kejadian campak menunjukkan bahwa cakupan imunisasi campak berasosiasi negatif secara konsisten dan signifikan dengan kejadian campak (β=-6,39; p<0,001), sedangkan kepadatan penduduk menunjukkan asosiasi positif yang signifikan setelah dikontrol oleh variabel lain (β=0,39 pada skala log; p=0,009); cakupan ASI eksklusif dan vitamin A tidak menunjukkan asosiasi yang signifikan (model R² disesuaikan=0,35). Peta risiko komposit berbasis GIS ini berfungsi sebagai alat skrining cepat (rapid risk screening tool) untuk membantu penentuan prioritas wilayah intervensi campak, dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan analisis epidemiologi spasial formal. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar awal untuk menentukan prioritas wilayah serta mendukung perencanaan program pengendalian campak dan penguatan imunisasi di Indonesia.
Copyrights © 2026