Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Spasial Kejadian Campak di Indonesia Tahun 2022 Suharyo Adijoyo Nugroho; Martya Rahmaniati
Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 7 (2026): Jurnal Multidisiplin Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jmi.v5i7.2833

Abstract

Campak masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia meskipun program imunisasi telah dilaksanakan secara luas. Penurunan cakupan imunisasi selama pandemi COVID-19 meningkatkan risiko terjadinya immunity gap yang berpotensi memicu peningkatan kejadian campak. Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi spasial faktor risiko campak di Indonesia tahun 2022. Penelitian menggunakan desain studi ekologi dengan pendekatan analisis spasial berdasarkan data sekunder dari Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2022 dan Badan Pusat Statistik. Unit analisis terdiri atas 34 provinsi di Indonesia. Variabel dependen adalah kejadian campak, sedangkan variabel independen meliputi cakupan imunisasi campak, cakupan vitamin A, cakupan ASI eksklusif, dan kepadatan penduduk. Analisis dilakukan menggunakan metode penilaian risiko untuk mengklasifikasikan tingkat risiko pada setiap provinsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan skor komposit, sebanyak 33 provinsi termasuk kategori risiko sedang dan satu provinsi termasuk kategori risiko rendah. Aceh merupakan provinsi dengan skor risiko tertinggi, ditandai oleh rendahnya cakupan imunisasi campak (52,9%), cakupan ASI eksklusif (49,4%), serta cakupan vitamin A yang belum optimal (89,2%). Sebaliknya, Nusa Tenggara Barat memiliki skor risiko terendah dengan cakupan imunisasi, vitamin A, dan ASI eksklusif yang lebih baik serta proporsi kejadian campak yang rendah. Pendekatan analisis spasial menggunakan penilaian risiko mampu mengidentifikasi variasi tingkat risiko campak antarprovinsi melalui integrasi beberapa indikator kesehatan. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam penentuan prioritas wilayah serta mendukung perencanaan program pengendalian campak dan penguatan imunisasi di Indonesia.
Pemetaan Risiko Campak di Indonesia Tahun 2022 Berdasarkan Skor Komposit Multi-Indikator: Pendekatan Sistem Informasi Geografis (GIS) Suharyo Adijoyo Nugroho; Martya Rahmaniati
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 23 No. 01 Juli 2026
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Campak masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia meskipun program imunisasi telah dilaksanakan secara luas. Penurunan cakupan imunisasi selama pandemi COVID-19 meningkatkan risiko terjadinya immunity gap yang berpotensi memicu peningkatan kejadian campak. Penelitian ini bertujuan menyusun dan memetakan skor risiko komposit campak pada 34 provinsi di Indonesia tahun 2022 berdasarkan 4 indikator kesehatan menggunakan sistem informasi geografis (GIS). Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan data sekunder dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2022 dan Badan Pusat Statistik. Variabel dependen adalah kejadian campak, sedangkan variabel independen meliputi cakupan imunisasi campak, cakupan vitamin A, cakupan ASI eksklusif, dan kepadatan penduduk. Setiap variabel diberi skor 1–3 berdasarkan ambang risiko yang telah ditetapkan, kemudian dijumlahkan menjadi skor komposit dan divisualisasikan secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan skor komposit, 33 provinsi termasuk kategori risiko sedang dan 1 provinsi (Nusa Tenggara Barat) termasuk kategori risiko rendah; tidak terdapat provinsi yang berisiko tinggi. Aceh merupakan provinsi dengan skor risiko tertinggi (skor 12), ditandai oleh rendahnya cakupan imunisasi campak (52,9%), cakupan ASI eksklusif (49,4%), serta cakupan vitamin A yang belum optimal (89,2%). Sebaliknya, Nusa Tenggara Barat memiliki skor risiko terendah (skor 5) dengan capaian keempat indikator yang lebih baik. Sebagai analisis pelengkap, regresi linier berganda pada log-transformasi proporsi kejadian campak menunjukkan bahwa cakupan imunisasi campak berasosiasi negatif secara konsisten dan signifikan dengan kejadian campak (β=-6,39; p<0,001), sedangkan kepadatan penduduk menunjukkan asosiasi positif yang signifikan setelah dikontrol oleh variabel lain (β=0,39 pada skala log; p=0,009); cakupan ASI eksklusif dan vitamin A tidak menunjukkan asosiasi yang signifikan (model R² disesuaikan=0,35). Peta risiko komposit berbasis GIS ini berfungsi sebagai alat skrining cepat (rapid risk screening tool) untuk membantu penentuan prioritas wilayah intervensi campak, dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan analisis epidemiologi spasial formal. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar awal untuk menentukan prioritas wilayah serta mendukung perencanaan program pengendalian campak dan penguatan imunisasi di Indonesia.