Keterlibatan terbatas kaum muda dalam aktivisme iklim di Indonesia telah mendorong refleksi tentang apa yang terjadi pada tingkat lokal, khususnya dalam lingkungan akademik. Penelitian ini menggunakan mixed methods, berupa survei pendahuluan dan analisis kualitatif melalui lensa pedagogi kritis. Survei pendahuluan yang dilakukan sebelum sosialisasi wacana perubahan iklim di sebuah Sekolah Menengah Atas di Semarang, Jawa Tengah, mengungkapkan adanya kesenjangan antara popularitas perubahan iklim dan pemahaman yang tepat tentang isu tersebut. Hasil survei digunakan sebagai dasar untuk mendiskusikan gagasan membawa wacana perubahan iklim ke dalam kelas, yang menekankan pada peran pendekatan partisipatoris-kritis dan antropologi dalam pendidikan guna menumbuhkan keterlibatan emosional dan meningkatkan pemahaman kaum muda tentang isu perubahan iklim. Pendidikan perubahan iklim semacam itu bertujuan untuk memberikan pemahaman dalam konteks sosial budaya, memungkinkan kaum muda untuk memahami tanggung jawab iklim yang realistis, sehingga memotivasi mereka untuk melakukan tindakan nyata.
Copyrights © 2026