Perkembangan pasar modal Indonesia yang ditandai dengan pertumbuhan jumlah investor dan meningkatnya jumlah perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) mendorong perusahaan sub sektor batu bara memanfaatkan pasar modal sebagai strategi pembiayaan, terutama pada periode 2020–2023 ketika harga batu bara global mengalami kenaikan signifikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan kinerja keuangan sebelum dan sesudah IPO pada perusahaan sub sektor batu bara yang melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2020–2023. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif dengan sampel lima perusahaan yang dipilih melalui metode purposive sampling, yaitu SGER, MCOL, RMKE, ADMR, dan CUAN. Variabel yang dianalisis yaitu Return on Assets (ROA), Current Ratio (CR), Total Asset Turnover (TATO), dan Debt to Equity Ratio (DER). Data laporan keuangan tahunan selama enam tahun (tiga tahun sebelum dan tiga tahun sesudah IPO) diolah menggunakan SPSS melalui statistik deskriptif, uji normalitas Shapiro–Wilk, dan Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada ROA (p = 0,012), CR (p = 0,002), dan TATO (p = 0,033), yang memperlihatkan peningkatan profitabilitas, likuiditas, dan efektivitas penggunaan aset setelah IPO. Sementara itu, DER tidak menunjukkan perbedaan signifikan (p = 0,053), yang mencerminkan adanya keragaman strategi pembiayaan antar perusahaan setelah IPO. Secara umum, IPO berhubungan dengan perbaikan pada sebagian besar indikator kinerja keuangan yang diteliti, dan temuan ini diharapkan dapat menjadi kontribusi empiris bagi literatur keuangan serta bahan pertimbangan bagi investor dan manajemen perusahaan dalam pengambilan keputusan terkait strategi go public.
Copyrights © 2026