Kombinasi ketiga peran perempuan dalam pertanian anggur di Desa Banjar Buleleng Bali menjadi akar munculnya beban berlebih terhadap perempuan. Namun yang menarik adalah perempuan sendiri tidak merasa dirugikan atau terbebani dengan kondisi tersebut, melainkan mereka memaknai sebagai sesuatu yang wajar. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan tujuan untuk mendeskripsikan dan mengidentifikasi bentuk kekuatan simbolik dalam pertanian anggur. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui triangulasi data berupa observasi, wawancara, dan studi literature. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan dalam pertanian anggur di Desa Banjar memaknai triple roles sebagai bentuk kewajiban dan kodrat seorang perempuan, sehingga berbagai bentuk dominasi yang ada dalam peran-peran tersebut seolah tidak tampak. Kondisi ini disebut sebagai kekuatan simbolik oleh Piere Bourdieu, kekuatan ini sangat mulus masuk ke dalam struktur masyarakat pertanian anggur yang secara tidak langsung memperkuat budaya patriarki dalam masyarakat setempat. Secara tidak langsung kekuatan simbolik tersebut mempengaruhi keterbatasan akses dan control perempuan terhadap sumberdaya dan manfaat. Kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh factor-faktor seperti norma dan budaya patriarki, factor demografi, ekonomi, kelembagaan, parameter hukum maupun Lembaga Swadaya Masyarakat.
Copyrights © 2026