Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan komoditas perikanan bernilai tinggi yang banyak ditangkap di wilayah Paciran, Jawa Timur. Namun, penggunaan bubu lipat sebagai alat tangkap utama masih kurang selektif dan rajungan berukuran di bawah legal size, sehingga berpotensi mengancam keberlanjutan sumber daya. Penelitian ini bertujuan untuk meredesain bubu lipat agar lebih selektif terhadap rajungan legal size sesuai dengan ketentuan Permen KP No. 7 Tahun 2024. Metode penelitian menggunakan experimental fishing dengan membandingkan efektivitas bubu lipat konvensional dan bubu lipat hasil redesain yang dilengkapi celah pelolosan (escape vent). Hasil uji t menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua alat tangkap (t hitung = 8.973 > t tabel = 2.9686; Sig. = 0.00 < 0.05), menandakan bahwa modifikasi desain berpengaruh nyata terhadap produktivitas dan selektivitas hasil tangkapan. Hasil penelitian menunjukan bahwa bubu lipat redesain mampu menangkap 100% rajungan berukuran legal, sementara 62% dari total tangkapan bubu konvensional merupakan rajungan berukuran illegal. Walaupun jumlah tangkapan bubu redesain lebih sedikit, alat ini terbukti lebih ramah lingkungan dan mendukung praktik perikanan berkelanjutan. Penelitian ini memberikan rekomendasi inovasi alat tangkap selektif yang dapat diterapkan dalam pengelolaan perikanan rajungan guna menjaga kelestarian ekosistem laut serta meningkatkan kualitas hasil tangkapan nelayan.
Copyrights © 2026