Interoperabilitas rekam medis elektronik (EMR) di Puskesmas masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dari segi infrastruktur teknologi informasi (TI), standar data, dan kesiapan sumber daya manusia (SDM). Permasalahan utama yang teridentifikasi antara lain ketidakstabilan jaringan internet, keterbatasan fitur sistem, kurangnya pelatihan tenaga medis, dan belum adanya prosedur operasi standar (SOP) yang seragam. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dengan menganalisis berbagai artikel yang relevan mengenai interoperabilitas EMR di Puskesmas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan infrastruktur TI, adopsi standar HL7-FHIR, dan pelatihan tenaga kesehatan sangat penting untuk meningkatkan efisiensi pertukaran data antar fasilitas kesehatan. Selain itu, regulasi yang lebih jelas dan pengembangan kebijakan yang mendukung integrasi sistem EMR dengan platform nasional seperti Satu Sehat (IHC) juga menjadi faktor kunci keberhasilan implementasi interoperabilitas. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, fasilitas kesehatan, dan tenaga medis dalam upaya optimalisasi EMR guna meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia.
Copyrights © 2025