Traditions or customs are concepts of belief that are passed down from generation to generation, both descriptively and verbally. This article uses qualitative research analysis with a literature study approach that aims to reveal and critique the extent to which the traditions of Brokohan after childbirth and the burial of the placenta after delivery or childbirth are still widely practiced in Javanese culture, including among Christian families who have accepted Christ's salvation as the basis of their faith. even practiced by Christian clergy. Data collection techniques included observations and interviews with 20 heads of families who had undergone the Brokohan and Ari-ari burial ceremonies, as well as a literature study of journals and books on Javanese culture. In practice, there are several shifts in meaning and purpose that are influenced by cultural, social, and personal conditions. From a Christian perspective, this tradition is seen as a human endeavor that, through its philosophy, provides teachings that must be passed down from generation to generation but are not in accordance with the teachings of Christ (Colossians 2:8).AbstrakTradisi atau kebiasaan merupakan suatu konsep kepercayaan yang diwariskan secara turun temurun, baik secara diskripsi maupun verbal. Artikel iniĀ menggunakan Penelitian kualitatif analisis denganĀ pendekatan studi literatur yang bertujuan mengungkap dan mengkritisi sejauh mana tradisi Brokohan pasca melahirkan dan pemendaman Ari-ari pasca persalinan atau melahirkan pada budaya Jawa yang masih banyak dilakukan dimasyarakat jawa, juga termasuk keluarga Kristen yang telah menerima keselamatan Kristus yang menjadi pokok imannya, bahkan dijalani pula oleh tokoh rohaniawan keluarga Kristen. Tehnik pengambilan data dari hasil observasi wawancara dari 20 Kepala Keluarga yang telah menjalani upacara Brokohan dan Pemendaman Ari-ari dan studi pustaka dari jurnal dan buku-buku budaya jawa. Dan didalam pelaksanaanya ada beberapa pergeseran makna serta tujuan yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh kondisi kultural, sosial dan pribadi. Dari sudut pandang Kristen memberikan sebuah gambaran bagaimana tradisi ini merupakan usaha manusia yang dengan filsafatnya memberikan pengajaran yang harus dijalankan secara turun temurun tetapi tidak menurut atau sesuai dengan pengajaran Kristus (Kolose 2:8).
Copyrights © 2026