Industri mikro dan kecil (IMK) memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia karena mampu menyerap tenaga kerja dan mendorong aktivitas ekonomi masyarakat. Namun demikian, IMK masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan nilai tambah usaha, terutama terkait keterbatasan kapasitas produksi, digitalisasi, inovasi, dan produktivitas tenaga kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi pengaruh inovasi, penggunaan internet, nilai input, jumlah pekerja, dan pengeluaran untuk pekerja terhadap nilai tambah IMK di Indonesia. Data yang digunakan merupakan data sekunder dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencakup 34 provinsi di Indonesia selama periode 2021–2024 dengan total 136 observasi. Metode analisis yang digunakan adalah regresi data panel. Hasil Uji Chow dan Uji Hausman menunjukkan bahwa model terbaik yang digunakan adalah Fixed Effects Model (FEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, jumlah IMK yang berinovasi, nilai input IMK, jumlah IMK pengguna internet, jumlah pekerja IMK, dan pengeluaran untuk pekerja berpengaruh terhadap nilai tambah IMK. Secara parsial, nilai input IMK, jumlah IMK pengguna internet, dan pengeluaran untuk pekerja berpengaruh positif signifikan terhadap nilai tambah IMK. Sementara itu, jumlah IMK yang berinovasi dan jumlah pekerja IMK tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai tambah IMK. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan nilai tambah IMK lebih dipengaruhi oleh kapasitas produksi, pemanfaatan internet, dan pengeluaran tenaga kerja yang berkaitan dengan produktivitas dibandingkan sekadar jumlah pekerja atau jumlah usaha yang berinovasi.
Copyrights © 2026