Stres kerja merupakan isu yang semakin mendapatkan perhatian dalam studi perilaku organisasi karena dampaknya yang luas terhadap kesehatan psikologis karyawan dan kualitas kehidupan kerja secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam bagaimana stres kerja memengaruhi kesehatan mental dan employee well-being, serta menelusuri implikasi lanjutan dari kedua variabel tersebut terhadap tingkat produktivitas karyawan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap karyawan di berbagai unit kerja, dan data dianalisis melalui model regresi yang bertujuan menguji kekuatan serta arah hubungan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingginya tingkat stres kerja berkorelasi negatif dengan kesehatan mental, ditandai oleh meningkatnya gejala kelelahan emosional, penurunan kemampuan konsentrasi, dan munculnya perasaan tertekan yang berkepanjangan. Penurunan kesehatan mental tersebut turut berkontribusi pada merosotnya employee well-being, yang tercermin dari berkurangnya kepuasan kerja, menurunnya rasa keterlibatan, dan melemahnya motivasi internal karyawan. Dampak berantai ini pada akhirnya menurunkan produktivitas, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas hasil kerja, sekaligus meningkatkan risiko absensi dan turnover. Temuan penelitian ini menggarisbawahi pentingnya organisasi untuk mengembangkan strategi manajemen stres yang terstruktur, seperti pengaturan beban kerja yang proporsional, penyediaan layanan konseling, peningkatan fleksibilitas kerja, serta penciptaan budaya kerja yang suportif. Implementasi kebijakan tersebut berpotensi memperkuat kesehatan mental, meningkatkan kesejahteraan karyawan, dan secara langsung berdampak pada peningkatan produktivitas organisasi. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dan praktis dengan memperluas pemahaman mengenai mekanisme hubungan stres kerja dan kesejahteraan karyawan, sekaligus memberikan rekomendasi strategis bagi pengembangan manajemen sumber daya manusia di masa depan.
Copyrights © 2026