Tradisi pemberian sangu pada momen Hari Raya Idul Fitri merupakan praktik budaya yang mengandung lapisan makna sosial kompleks di luar nilai ekonominya yang tersurat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis makna sosial, fungsi kultural, serta dimensi resiprositas yang terkandung dalam tradisi pemberian sangu di kalangan masyarakat Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif bertipe fenomenologi sosial dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi sangu berfungsi sebagai mekanisme resiprositas yang memperkuat solidaritas komunal, wahana transmisi nilai budaya lintas generasi, sekaligus ekspresi sinkretisme antara ajaran Islam dan kearifan lokal. Tradisi ini turut berperan dalam pembentukan identitas komunal serta penegasan hierarki sosial yang konstruktif. Meskipun menghadapi tantangan modernisasi dan digitalisasi, esensi sangu sebagai bahasa sosial berbasis kasih sayang dan resiprositas tetap terjaga. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian tradisi lokal sebagai mekanisme reproduksi sosial yang relevan di tengah perubahan zaman.
Copyrights © 2026