Indonesia merupakan negara dengan kondisi geologi vulkanik dan sedimen, sehingga pada banyak wilayah dijumpai lapisan tanah lunak seperti lempung lunak, lanau lunak, dan gambut. Kondisi ini menjadi kendala utama dalam pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, dan perumahan karena daya dukung tanah yang rendah dan potensi penurunan (settlement) yang besar. Berbagai metode perbaikan tanah lunak telah dikembangkan, namun masih terkendala biaya tinggi dan waktu pelaksanaan yang lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan teknologi Broaded Bottom Pile (tiang pancang dengan sepatu) sebagai alternatif solusi perbaikan tanah lunak yang lebih efisien. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis perhitungan daya dukung berdasarkan data penyelidikan tanah BH-2 menggunakan metode α (faktor adhesi) untuk menghitung kapasitas dukung selimut (skin friction) dan kapasitas dukung ujung (end bearing). Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi Broaded Bottom Pile mampu mencapai end bearing pada nilai N-SPT sekitar 30, lebih rendah dibandingkan tiang pancang konvensional yang memerlukan N-SPT 50-60, sehingga kedalaman pemancangan dapat dipersingkat dari 20 m menjadi sekitar 10 m. Kapasitas dukung ultimit (Qult) tiang pancang 35/35 cm pada kedalaman 10 m mencapai 120,80 ton dengan kapasitas dukung izin (Qall) 60,40 ton. Penggunaan teknologi ini memberikan penghematan biaya konstruksi hingga 30-50% serta efisiensi waktu pelaksanaan yang signifikan, namun terbatas pada tiang tunggal (single pile) dengan panjang maksimum 20 m. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Broaded Bottom Pile merupakan solusi perbaikan tanah lunak yang lebih ekonomis dan efisien dibandingkan metode konvensional, dengan potensi penerapan yang luas pada berbagai proyek konstruksi di Indonesia.
Copyrights © 2026