Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Redesain Struktur Gedung Portal Rangka Terbuka RS. Bhayangkara menjadi Struktur Gedung Sistem Ganda Totok Andi Prasetyo; Silta Aliyah Azahra; Karminto Karminto
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i5.64209

Abstract

Gedung RS. Bhayangkara, yang terletak di Jakarta Selatan, dibangun di atas tanah lunak dengan sistem portal rangka terbuka. Namun, analisis struktur menunjukkan adanya ragam getar pada mode 1 dengan translasi arah X dan rotasi sebesar 24%, yang dapat menimbulkan distorsi tambahan dan meningkatkan risiko kerusakan struktural, terutama pada tanah lunak yang dapat memperbesar respons seismik. Oleh karena itu, perlu dilakukan redesain struktur untuk meningkatkan ketahanan seismik. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain ulang struktur gedung RS. Bhayangkara dengan mengubahnya menjadi sistem ganda yang menggunakan dinding geser, guna meningkatkan ketahanan seismik dan meminimalisir distorsi tambahan pada struktur. Pemodelan struktur dilakukan menggunakan program ETABS dengan acuan perancangan berdasarkan SNI 1726:2019, SNI 2847:2019, dan pembebanan mengacu pada SNI 1727:2019. Redesain dilakukan dengan menambahkan dinding geser pada struktur gedung untuk meningkatkan ketahanan seismik. Hasil analisis redesain menunjukkan bahwa dengan penambahan dinding geser, nilai periode getar pada arah X untuk mode ragam 1 menjadi Tx = 0,705 detik dan pada arah Y untuk mode ragam 2 menjadi Ty = 0,649 detik. Sistem ganda dengan rangka pemikul momen mampu menahan lebih dari 25% gaya seismik yang ditetapkan, dengan hasil analisis menunjukkan penahanan gaya seismik sebesar 66% pada arah X dan 61% pada arah Y. Redesain struktur menggunakan sistem ganda dengan dinding geser berhasil mengurangi distorsi tambahan dan meningkatkan ketahanan seismik, memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam SNI 1726:2019.
Teknologi Tiang Pancang dengan Sepatu Tiang (Broaded Bottom Pile) Karminto Karminto; Johansen Pardede; Hotma Harapan Saragih
Jurnal Sosial Teknologi Vol. 6 No. 7 (2026): Jurnal Sosial dan Teknologi
Publisher : CV. Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jurnalsostech.v6i7.32923

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan kondisi geologi vulkanik dan sedimen, sehingga pada banyak wilayah dijumpai lapisan tanah lunak seperti lempung lunak, lanau lunak, dan gambut. Kondisi ini menjadi kendala utama dalam pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, dan perumahan karena daya dukung tanah yang rendah dan potensi penurunan (settlement) yang besar. Berbagai metode perbaikan tanah lunak telah dikembangkan, namun masih terkendala biaya tinggi dan waktu pelaksanaan yang lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan teknologi Broaded Bottom Pile (tiang pancang dengan sepatu) sebagai alternatif solusi perbaikan tanah lunak yang lebih efisien. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis perhitungan daya dukung berdasarkan data penyelidikan tanah BH-2 menggunakan metode α (faktor adhesi) untuk menghitung kapasitas dukung selimut (skin friction) dan kapasitas dukung ujung (end bearing). Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi Broaded Bottom Pile mampu mencapai end bearing pada nilai N-SPT sekitar 30, lebih rendah dibandingkan tiang pancang konvensional yang memerlukan N-SPT 50-60, sehingga kedalaman pemancangan dapat dipersingkat dari 20 m menjadi sekitar 10 m. Kapasitas dukung ultimit (Qult) tiang pancang 35/35 cm pada kedalaman 10 m mencapai 120,80 ton dengan kapasitas dukung izin (Qall) 60,40 ton. Penggunaan teknologi ini memberikan penghematan biaya konstruksi hingga 30-50% serta efisiensi waktu pelaksanaan yang signifikan, namun terbatas pada tiang tunggal (single pile) dengan panjang maksimum 20 m. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Broaded Bottom Pile merupakan solusi perbaikan tanah lunak yang lebih ekonomis dan efisien dibandingkan metode konvensional, dengan potensi penerapan yang luas pada berbagai proyek konstruksi di Indonesia.