Tingginya tekanan akademik pada mahasiswa sering kali memicu respons maladaptif dalam bentuk penggunaan smartphone sebagai sarana pelarian diri, yang berpotensi menurunkan kualitas tidur. Fenomena ini kian mengkhawatirkan dengan prevalensi insomnia pada mahasiswa yang mencapai 63,3% serta intensitas penggunaan gadget tinggi yang meningkatkan risiko gangguan tidur hingga 4,5 kali lipat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengelolaan stress terhadap intensitas penggunaan smartphone dan risiko insomnia pada mahasiswa Universitas Pekalongan. Studi kuantitatif ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan Cross-Sectional yang dilakukan pada bulan Mei-Juni 2026. Penelitian ini melibatkan 100 responden mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Pekalongan angkatan 2024 yang dipilih melalui metode proportional random sampling. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang meliputi Perceived Stress Scale (PSS-10) untuk tingkat stress, Smartphone Addiction Scale-Short Version (SAS-SV) untuk kecanduan gawai, serta Insomnia Severity Index (ISI) untuk tingkat keparahan insomnia. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara tingkat stres dengan intensitas penggunaan smartphone (rs = 0,383; p < 0,001), serta hubungan signifikan antara intensitas penggunaan smartphone dengan risiko insomnia (rs = 0,251; p = 0,012). Namun, tidak ditemukan hubungan langsung yang signifikan antara tingkat stres dengan risiko insomnia (p = 0,054). Tingkat stres berkaitan dengan peningkatan intensitas penggunaan smartphone, sedangkan intensitas penggunaan smartphone berkaitan dengan risiko insomnia pada mahasiswa. Edukasi mengenai kebersihan digital dapat dipertimbangkan sebagai upaya pendukung untuk membantu menjaga kualitas tidur mahasiswa.
Copyrights © 2026