Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana mahasiswa memaknai QS. al-Asr [103]:1–3 dalam konteks kesadaran eksistensial, khususnya terkait makna hidup dan tanggung jawab. Berangkat dari pendekatan Living qur’an, penelitian ini memfokuskan diri pada dimensi resepsi individual yang berlangsung melalui pengalaman batin, refleksi diri, dan dialog mahasiswa terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Metode penelitian menggunakan fenomenologi Husserl–Heidegger dengan teknik wawancara mendalam, observasi fenomenologis di ruang kelas, dan analisis tematik untuk menata pola makna yang muncul dari pengalaman partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS. al-Asr membangkitkan tiga bentuk kesadaran utama: (1) kesadaran waktu sebagai batas eksistensial yang menuntut orientasi hidup lebih terarah; (2) kesadaran tanggung jawab sebagai dorongan internal untuk memperbaiki perilaku akademik dan moral; dan (3) kesadaran reflektif yang memunculkan proses evaluasi diri dan pencarian keautentikan. Analisis fenomenologi mengungkap bahwa pemaknaan tersebut tidak berhenti pada tataran kognitif, tetapi membentuk transformasi kesadaran melalui gerak intentionalitas menuju pengalaman religius yang lebih mendalam. Penelitian ini berimplikasi pada pengembangan kajian Living qur’an berbasis pengalaman eksistensial, serta menawarkan pendekatan pedagogis baru bagi pendidikan tinggi yang menempatkan tadabbur sebagai proses pembentukan karakter. Sementara itu, keterbatasan penelitian terletak pada lingkup partisipan yang sempit dan fokus pada satu surah, sehingga penelitian lanjutan perlu melibatkan populasi lebih luas dan menggunakan ayat bernuansa eksistensial lainnya untuk memperkaya pemahaman resepsi mahasiswa terhadap Al-Qur’an.
Copyrights © 2026