Bencana erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur yang mencapai puncaknya pada 3–4 November 2024 menimbulkan korban jiwa, pengungsi massal, dan kerusakan infrastruktur yang signifikan. Berdasarkan data BNPB (2024), terdapat 9 orang meninggal dunia, 4 luka berat, dan lebih dari 12.301 jiwa mengungsi di tujuh kecamatan terdampak. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh waktu respons darurat terhadap tingkat korban jiwa serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas respons tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan library research, yaitu mengkaji berbagai sumber sekunder meliputi laporan BNPB, PVMBG, publikasi ilmiah, dokumen kebijakan, dan laporan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dari Politeknik Kesehatan Kemenkes Kupang. Hasil kajian menunjukkan bahwa waktu respons darurat yang lambat, yang dipengaruhi oleh kerusakan infrastruktur jalan, keterbatasan komunikasi, dan rendahnya kesadaran evakuasi masyarakat, berkontribusi langsung terhadap peningkatan jumlah korban jiwa. Sebaliknya, aktivasi peringatan dini oleh PVMBG, koordinasi multisektoral, serta keterlibatan aktif perguruan tinggi melalui pendekatan Penta Helix (ABCGM) terbukti mempercepat respons dan menekan angka korban lebih lanjut. Penelitian ini merekomendasikan penguatan sistem peringatan dini komunitas, pelatihan evakuasi berkala, perbaikan infrastruktur jalur evakuasi, dan penerapan protokol respons terpadu sebagai strategi mitigasi berkelanjutan. ABSTRACT The eruption of Mount Lewotobi Laki-laki in East Flores Regency, East Nusa Tenggara, which peaked on November 3–4, 2024, resulted in significant casualties, mass displacement, and infrastructure damage. According to BNPB (2024), 9 people died, 4 were seriously injured, and more than 12,301 people were displaced across seven affected sub-districts. This study aims to examine the influence of emergency response time on casualty rates and to identify factors affecting response effectiveness. A descriptive qualitative method with a library research approach was employed, reviewing secondary sources including BNPB, PVMBG reports, scientific publications, policy documents, and community service reports from Kupang Health Polytechnic. Results indicate that delayed emergency response driven by infrastructure damage, limited communication, and low community evacuation awareness directly contributed to higher casualty numbers. Conversely, early warning activation by PVMBG, multi-sectoral coordination, and active involvement of higher education institutions through the Penta Helix approach (ABCGM) proved effective in accelerating response and minimizing further casualties. The study recommends strengthening community-based early warning systems, regular evacuation drills, evacuation route infrastructure improvement, and integrated response protocols as sustainable mitigation strategies.
Copyrights © 2026