Disamping memberikan manfaat yang signifikan bagi kehidupan masyarakat, keberadaan bendungan juga menyimpan potensi risiko yang tidak dapat diabaikan. Keruntuhan suatu bendungan berpotensi menimbulkan banjir bandang yang mengakibatkan korban jiwa, kerugian harta benda, serta kerusakan lingkungan yang parah di kawasan hilir. Kondisi ini khususnya relevan bagi bendungan yang telah beroperasi dalam jangka waktu lama dan memerlukan kegiatan pemeliharaan intensif berupa perbaikan maupun rehabilitasi. Guna meminimalkan risiko kegagalan bendungan, diperlukan penilaian risiko yang komprehensif untuk menganalisis dan mengevaluasi potensi bahaya yang ada. Penelitian ini melakukan penilaian risiko Bendungan Sutami dengan menggunakan tiga pendekatan metode, yaitu metode pohon kejadian (event tree), dan metode tradisional, serta metode modifikasi ICOLD. Hasil identifikasi mode kegagalan menggunakan FMECA menunjukkan bahwa komponen kebocoran Waterway PLTA memiliki nilai kekritisan tertinggi (Cr = 64), sehingga menjadi prioritas utama analisis lanjutan. Temuan penelitian berdasarkan metode tradisional dan metode pohon kejadian menunjukkan nilai probabilitas kegagalan pada komponen kritis Bendungan Sutami berada pada kisaran 1,00E-05 hingga 3,65E-02, yang melampaui ambang kriteria risiko yang dapat diterima sehingga dikategorikan "Tidak Memenuhi". Adapun berdasarkan metode modifikasi ICOLD, diperoleh nilai indeks risiko sebesar 67 dengan klasifikasi risiko "Tinggi", yang mengindikasikan bahwa Bendungan Sutami memerlukan perhatian khusus berupa tindakan perbaikan teknis dan terjadwal untuk mereduksi risiko kegagalan
Copyrights © 2026