Tenun ikat merupakan salah satu ekspresi budaya yang sarat makna filosofis. Sanggar Lepo Lorun memainkan peran penting dalam pelestarian sekaligus inovasi tradisi tenun ikat di Desa Nita, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengungkap makna filosofis dari motif-motif tenun ikat yang dikembangkan di Lepo Lorun, memaknai kaitannya dengan identitas masyarakat Nita dan Sikka pada umumnya, serta menggali kreativitas dalam pengembangan motif baru berbasis tradisi. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi serta dianalisis dengan teknik deskriptif, interpretatif, dan pendekatan hermeneutik. Temuan utama menunjukkan bahwa motif merak, rusa, dan dala mawarani mengandung makna simbolik mendalam yang mempresentasikan konsep estetika, spiritual, siklus kehidupan, serta harapan dalam kosmologi lokal masyarakat Nita. Ketiga motif ini memiliki fungsi yang tidak lain sebagai media komunikasi budaya yang menghubungkan generasi masa lalu dengan generasi masa kini, sekaligus menjadi instrumen pelestarian nilai-nilai tradisional dalam konteks modernisasi. Motif-motif ini digunakan secara selektif dalam konteks sosial dan ritual tertentu, dan mencerminkan sistem regulasi sosial yang kompleks. Tenun ikat Lepo Lorun tidak hanya berfungsi sebagai karya seni, melainkan juga sebagai media komunikasi budaya dan identitas kolektif. Inovasi yang dilakukan dalam bentuk adaptasi motif pada produk modern menunjukkan keseimbangan antara pelestarian nilai tradisi dan relevansi kontemporer. Dengan demikian, tenun ikat Lepo Lorun menjadi manifestasi kreatif yang merepresentasikan jati diri budaya masyarakat Nita di tengah perubahan zaman.
Copyrights © 2026