Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kuatnya posisi Serat Tripama sebagai teks piwulang yang kerap dijadikan rujukan etika dan karakter dalam budaya Jawa, tetapi pembacaan kritis mengenai bagaimana teks tersebut membingkai hierarki sosial dan relasi kuasa masih jarang dilakukan. Artikel ini bertujuan memahami bagaimana figur Karna direpresentasikan bukan hanya sebagai teladan moral, melainkan juga sebagai subjek yang diposisikan dalam struktur patronase dan legitimasi. Penelitian menggunakan metode kualitatif berbasis analisis teks dengan data primer tujuh bait tembang Dhandhanggula Serat Tripama (Bait 01–07), dibaca melalui close reading dan analisis wacana kritis. Kerangka analisis memadukan etika Jawa, representasi, dan teori subaltern untuk menelaah bagaimana teladan, pengabdian, dan pengorbanan dinormalisasi sebagai kepatutan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Serat Tripama tidak hanya mengajarkan moralitas, tetapi juga bekerja sebagai mekanisme produksi subjek ideal dalam hierarki sosial melalui penetapan teladan, penguncian kepatuhan, dan penyaringan kemungkinan artikulasi subjek.
Copyrights © 2026