Setiap komunitas memiliki sekat sosial dalam memepertahankan esinsi kultural yang dimiliki. Pertemuan antarkomunitas menimbulkan pertukaran dan membuka peluang terjadinya hibriditas kultural. Pada tatanan ideal, komunitas mampu menciptakan tatanan sosial yang merujuk pada originalitas budaya yang menjadi identitas lokal yang esensial. Namun dilihat dari tatanan empiris, pertemuan antara komunitas satu dengan komunitas yang lain justru menimbulkan pertukaran budaya dan menciptakan hibriditas kultural. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali hibriditas kultural antara masyarakat Hindu (Bali) dan masyarakat Islam Tradisional (sasak) di Kabupaten Karangasem. Metode pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan kritis kajian budaya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses terjadinya hibriditas kultural tidak lepas dari ekspansi Raja Karangasem ke Lombok. Kedatangan masyarakat Islam ke Karangasem menyebabkan terjadinya persilangan budaya dan menumbuhkan budaya yang baru. Terjadinya hibriditas kultural adalah bentuk dari perubahan identitas dalam upaya berbaurnya antar komunitas yang ada di Karangasem. Bentuk hibriditas kultural yang terjadi berupa: (1) Bahasa Bali dalam Komunikasi Islam, (2) Magibung, (3) Ngejot, (4) Persilangan Kesenian Rebana dengan Gong Kebyar, dan (5) Konsep Nyama Braya. Implikasi dari hibriditas ini mencakup terjadinya persamaan konsep berupa Nyama Braya, persamaan gagasan, pemahaman, dan adanya ikatan politis yang kuat.
Copyrights © 2026