Kemampuan pemecahan masalah merupakan komponen penting dalam pembelajaran matematika karena melibatkan proses berpikir kritis, logis, dan sistematis. Namun, banyak siswa masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan mengkaji keterkaitan antara gaya belajar (visual, auditorial, dan kinestetik) dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa berdasarkan taksonomi SOLO. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek enam siswa kelas X SMK NU 1 Karanggeneng yang dipilih secara purposif berdasarkan hasil tes diagnostik gaya belajar dan skor kemampuan matematika dasar. Instrumen penelitian meliputi angket gaya belajar, soal pemecahan masalah yang disusun mengacu pada indikator taksonomi SOLO, serta pedoman wawancara semi-terstruktur yang divalidasi melalui expert judgment. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa bergaya belajar visual cenderung mencapai level extended abstract, siswa auditorial berada pada level relational, sedangkan siswa kinestetik umumnya berada pada level multistructural. Temuan ini menunjukkan adanya kecenderungan korelasi antara gaya belajar dan struktur kemampuan pemecahan masalah matematis, serta menegaskan pentingnya strategi pembelajaran yang adaptif terhadap profil kognitif siswa.
Copyrights © 2025