HIV/AIDS masih menjadi tantangan kesehatan global dimana Indonesia menempati peringkat ke-14 dunia dalam jumlah Orang Dengan HIV (ODHIV). Pendekatan komunikasi kesehatan konvensional yang bersifat top-down terbukti kurang efektif menjangkau kelompok berisiko tinggi seperti Pekerja Seks Perempuan (PSP) dan Lelaki Seks Lelaki (LSL). Komunikasi peer-to-peer merupakan strategi penting dalam penanggulangan HIV/AIDS pada kelompok berisiko tinggi dimana terdapat kedekatan emosional dan kepercayaan di antara sesama anggota komunitas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jaringan komunikasi, pengalaman komunikasi, serta kebutuhan dan preferensi komunikasi peer-to-peer pada kelompok berisiko tinggi di Kota Pekanbaru. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Community-Based Participatory Research (CBPR). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 4 orang informan dari kelompok berisiko tinggi, dan 5 orang stakeholder melalui FGD. Penelitian dilakukan di Kota Pekanbaru selama bulan Agustus-Oktober 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan komunikasi pada PSP bersifat personal-individual dengan struktur berpusat pada mami atau mucikari, sementara LSL membentuk jaringan berbasis virtual-komunal dengan figur "ayam" sebagai koordinator. Pengalaman komunikasi peer-to-peer menciptakan hubungan non-judgmental, meskipun terdapat tantangan privasi dan conflict of interest. Kebutuhan komunikasi mencakup pendekatan bertahap, sensitivitas konteks, dan dukungan berkelanjutan.
Copyrights © 2026