Tuntutan beban akademik yang tinggi berupa kombinasi pembelajaran teori di kelas dan persiapan praktik kerja lapangan sering kali memicu kejenuhan belajar (academic burnout) yang berat bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), khususnya pada siswa kelas X yang sedang menghadapi masa transisi sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kapasitas internal berupa grit (kegigihan) dan dukungan eksternal berupa dukungan sosial teman sebaya dapat menurunkan tingkat kejenuhan tersebut, serta menguji peran mediasi dukungan sosial di antara keduanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 155 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala Grit, School Burnout Inventory (SBI), dan skala dukungan sosial teman sebaya. Analisis data dilakukan menggunakan path analysis dengan uji mediasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa grit berpengaruh negatif dan signifikan terhadap academic burnout (p = 0,020), sedangkan dukungan sosial teman sebaya juga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap academic burnout (p = 0,044). Namun, grit tidak berpengaruh signifikan terhadap dukungan sosial teman sebaya (p = 0,294), sehingga dukungan sosial teman sebaya tidak memediasi hubungan antara grit dan academic burnout (p = 0,353). Temuan ini menunjukkan bahwa grit dan dukungan sosial teman sebaya berkontribusi secara langsung dalam menurunkan academic burnout, tetapi bekerja melalui mekanisme yang berbeda.
Copyrights © 2026