Penelitian ini menganalisis pengaruh modal kerja dan biaya operasional terhadap pendapatan bersih nelayan tradisional di Distrik Manokwari Utara, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei, data dikumpulkan dari 55 responden melalui purposive sampling dengan instrumen kuesioner dan wawancara langsung. Variabel modal kerja (X₁) dan biaya operasional (X₂) diukur dalam satuan rupiah per trip, dan pendapatan bersih (Y) dihitung menggunakan formula π = TR – TC. Analisis regresi linear berganda menunjukkan hasil berikut: (1) modal kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan nelayan (β=0,587; t=5,412; sig=0,000), menjadikannya variabel paling dominan; (2) biaya operasional berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pendapatan bersih (β=−0,324; t=−3,187; sig=0,002), mengkonfirmasi bahwa biaya yang tidak efisien menekan pendapatan; (3) secara simultan keduanya berpengaruh signifikan (F=41,827; sig=0,000; R²=0,645). Komponen biaya terbesar adalah BBM/solar (42,0% dari total biaya operasional), diikuti perbekalan (18,0%) dan es balok (14,0%). Rata-rata modal kerja per trip adalah Rp793.400, biaya operasional Rp568.655, dan pendapatan bersih Rp520.436. Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan akses modal kerja nelayan melalui program kredit mikro perikanan serta efisiensi biaya operasional, khususnya melalui subsidi BBM nelayan, sebagai dua instrumen kebijakan yang paling mendesak untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan tradisional di wilayah pesisir Papua Barat.
Copyrights © 2026