ABSTRAK Pendidikan merupakan salah satu sektor vital dalam pembangunan sumber daya manusia berkualitas. Namun, pemotongan anggaran pendidikan oleh pemerintah sering menjadi isu kontroversial. Pada Februari 2025, kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang mengalihkan dana pendidikan sebesar $19 miliar untuk mendanai program Makanan Bergizi Gratis (MBG) memicu protes besar-besaran dari mahasiswa melalui gerakan "Indonesia Gelap." Artikel ini bertujuan menganalisis dampak kebijakan tersebut terhadap mutu pembelajaran, kesejahteraan tenaga pengajar, dan akses pendidikan tinggi di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur dan analisis berita. Hasil kajian menunjukkan kebijakan ini berpotensi menurunkan kualitas fasilitas pendidikan, kesejahteraan tenaga pendidik, serta aksesibilitas pendidikan tinggi. Gerakan "Indonesia Gelap" mencerminkan keresahan mahasiswa terhadap masa depan pendidikan nasional. Kata Kunci : Pendidikan, anggaran, kebijakan, mahasiswa,akses ABSTRACT Education is one of the vital sectors in developing high-quality human resources. However, government budget cuts in education often become a controversial issue. In February 2025, President Prabowo Subianto’s policy to reallocate $19 billion from the education budget to fund the Free Nutritious Meals (MBG) program triggered widespread student protests through the "Dark Indonesia" movement. This article aims to analyze the impact of the policy on learning quality, teacher welfare, and access to higher education in Indonesia. The study uses a qualitative approach through literature review and news analysis. The findings indicate that this policy has the potential to reduce the quality of educational facilities, teacher well-being, and accessibility to higher education. The "Dark Indonesia" movement reflects students' concerns about the future of national education. Keywords: Education, budget, policy, students, access
Copyrights © 2026