Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan masalah Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada topik pecahan serta menganalisis peran self-efficacy dalam kerangka Kurikulum Merdeka. Penelitian menggunakan desain Mixed Method Explanatory Sequential dengan subjek penelitian sebanyak 30 siswa kelas 5 SD Negeri 13 Biru, Kabupaten Bone. Data dikumpulkan melalui tes tertulis, angket, dan wawancara klinis, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji korelasi non-parametrik Spearman, dan analisis tematik kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa masih didominasi kategori rendah hingga sedang, dengan kesulitan utama pada aspek analisis informasi dan evaluasi argumen. Ditemukan korelasi positif yang sangat kuat (rs = 0,847) dan signifikan antara self-efficacy dengan kemampuan berpikir kritis. Siswa dengan self-efficacy tinggi memiliki ketahanan kognitif dan kemampuan validasi jawaban yang baik, mampu memberikan alasan logis dan pembuktian konseptual. Sebaliknya, siswa dengan self-efficacy rendah mengalami hambatan kognitif di mana kecemasan dan keraguan menghambat kapasitas memori kerja, sehingga mengganggu proses penalaran dan penarikan kesimpulan. Dengan demikian, self-efficacy berperan sebagai variabel moderator yang sangat menentukan, yang menegaskan bahwa potensi intelektual tidak dapat termanifestasi secara optimal tanpa kepercayaan diri yang memadai. Hal ini mengimplikasikan pentingnya mengintegrasikan aspek kognitif dan afektif dalam pembelajaran matematika pada Kurikulum Merdeka.
Copyrights © 2026