Religiusitas dalam puisi tidak selalu dinyatakan melalui ajaran keagamaan secara langsung, tetapi dapat dibentuk melalui simbol, metafora, paradoks, dan struktur semantik yang membuka pengalaman spiritual serta refleksi moral. Penelitian ini bertujuan menginterpretasikan pembentukan makna religiusitas dalam puisi “Bismillah”, “Gelisahku”, dan “Jadi Apalagi” karya A. Musthofa Bisri berdasarkan hermeneutika Paul Ricoeur. Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan sumber data primer antologi Negeri Daging terbitan DIVA Press tahun 2020. Data berupa kata, frasa, larik, bait, pengulangan, simbol, metafora, paradoks, dan kontradiksi semantik dikumpulkan melalui teknik baca dan catat. Analisis dilakukan melalui pemahaman literal, identifikasi ketegangan semantik, interpretasi kelebihan makna simbolik, validasi berdasarkan koherensi internal teks, dan apropriasi terhadap dunia yang dibuka puisi. Hasil penelitian menunjukkan tiga dimensi religiusitas. “Bismillah” merepresentasikan kesadaran spiritual yang menyertai seluruh aktivitas dan mendorong penyebaran kasih kepada sesama. “Gelisahku” menunjukkan transformasi kegelisahan eksistensial menjadi kesadaran untuk kembali mendekat kepada Tuhan. “Jadi Apalagi” menghadirkan religiusitas sosial-kritis melalui kritik terhadap hilangnya substansi moral, keadilan, kemanusiaan, dan nilai ketuhanan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa religiusitas dalam ketiga puisi mencakup pengalaman spiritual, pergulatan eksistensial, tanggung jawab etis, dan kepedulian sosial yang dibentuk melalui mekanisme simbolik dan metaforis teks.
Copyrights © 2026