Agroforestri merupakan sistem pengelolaan lahan yang memadukan tanaman kehutanan, pertanian, dan/atau peternakan dalam satu unit lahan, yang diharapkan mampu mendukung konservasi keanekaragaman hayati, termasuk kupu-kupu (Lepidoptera) yang berperan sebagai penyerbuk dan bioindikator kualitas lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu pada habitat agroforestri dan non-agroforestri di Kawasan Wana Wisata Bedengan, Malang, serta menganalisis pengaruh sistem agroforestri terhadap keanekaragaman tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui survei dan observasi langsung menggunakan metode transek garis sepanjang 150 m pada dua tipe habitat, yang diulang sebanyak empat kali selama satu bulan. Keanekaragaman jenis dianalisis menggunakan indeks Shannon-Wiener, sedangkan perbedaan antarhabitat diuji dengan uji t Hutchinson. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 30 spesies kupu-kupu pada habitat agroforestri dan 16 spesies pada habitat non-agroforestri dari empat famili yang didominasi oleh Nymphalidae. Nilai indeks Shannon-Wiener sebesar 3,313 (kategori tinggi) pada habitat agroforestri dan 2,707 (kategori sedang) pada habitat non-agroforestri. Uji Hutchinson menghasilkan nilai t-hitung 3,497 yang lebih besar dari t-tabel 2,09302 (df = 19, α = 0,05), yang menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua habitat. Sistem agroforestri, melalui struktur vegetasi berlapis, ketersediaan pakan yang lebih beragam, dan mikroklimat yang lebih stabil, mendukung keanekaragaman kupu-kupu yang lebih tinggi dibandingkan area non-agroforestri sehingga layak direkomendasikan sebagai strategi tata guna lahan untuk konservasi serangga penyerbuk di kawasan ekowisata.
Copyrights © 2026