Serial streaming Gadis Kretek menghadirkan perempuan sebagai subjek yang berpengetahuan, produktif, dan mampu menegosiasikan batas-batas patriarki, tetapi sekaligus memperlihatkan bagaimana agensi tersebut dikendalikan melalui ruang, tubuh, pengetahuan, dan sejarah. Penelitian ini bertujuan menganalisis mitos yang dibangun melalui simbol-simbol perlawanan perempuan serta menjelaskan relasi kuasa yang bekerja dalam narasi audiovisual serial tersebut. Penelitian menggunakan paradigma kritis dengan pendekatan kualitatif dan metode analisis semiotika multimodal terhadap adegan terpilih dari lima episode. Data berupa komposisi visual, dialog, gestur, kostum, warna, properti, pengaturan ruang, dan struktur naratif dianalisis melalui semiotika Roland Barthes, model aktansial A.J. Greimas, konsep relasi kuasa Michel Foucault, dan perspektif feminisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlawanan Dasiyah dibangun melalui penguasaan pengetahuan kretek, keberanian memasuki ruang produksi terlarang, penolakan terhadap domestikasi, serta pewarisan ingatan. Namun, agensi tersebut terus dibatasi melalui pemisahan ruang kerja, pendisiplinan tubuh, mediasi suara oleh tokoh laki-laki, komodifikasi identitas, dan penghapusan kontribusi perempuan dari sejarah resmi. Secara naratif, Dasiyah tampil sebagai subjek perlawanan, tetapi berulang kali digeser menjadi penolong bagi pencapaian tokoh laki-laki. Temuan ini menghasilkan konsep “perlawanan yang diizinkan”, yaitu resistensi perempuan yang diakui selama tidak mengubah distribusi kuasa secara mendasar. Dengan demikian, Gadis Kretek tidak hanya mereproduksi patriarki, tetapi juga menyingkap cara patriarki beradaptasi dengan mengakomodasi agensi perempuan secara selektif. Temuan ini menegaskan bahwa visibilitas perempuan kuat dalam media belum bersifat emansipatoris apabila tidak disertai redistribusi otoritas, legitimasi pengetahuan, dan pengakuan sejarah.
Copyrights © 2026