Pada tahun 2009, UNESCO mengakui Batak sebagai warisan budaya tak benda Indonesia yang memiliki nilai ekonomi bagi para pelaku industri. Dengan kampung-kampung batik seperti Laweyan dan Kauman sebagai bukti akar budaya dan ekonominya, Surakarta menjadi pusat perkembangan industri batik yang signifikan. Tradisi keraton, keterampilan membatik yang diwariskan secara turun-temurun, dan jaringan perdagangan yang terus berkembang mendorong pertumbuhan industri batik Surakarta. Perusahaan ini mengalami pertumbuhan pesat setelah kemerdekaan, terutama selama tahun 1950–1970, bersama dengan pemulihan ekonomi nasional yang ditandai dengan peningkatan usaha, tenaga kerja, dan jarak perdagangan. Lebih dari sekedar bisnis, industri batik membentuk struktur sosial di masyarakat Surakarta. Munculnya kelompok sosial baru seperti pengusaha, pedagang, dan buruh batik menunjukkan dampak industri ini terhadap dinamika sosial. Mbok mase Laweyan menunjukkan peran strategis perempuan dalam bisnis batik. Namun demikian, perubahan dalam sistem kerja dan kehidupan sosial masyarakat batik Surakarta terus disebabkan oleh persaingan bisnis dan kemajuan teknologi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan pendekatan heuristik dan analitis. Dengan pemanfaatan sumber primer serta sekunder didalam penelitian. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berfokus pada dokumentasi arsip dan sumber tertulis sekaligus wawancara Kata Kunci: Industri Batik, Surakarta, Strukur Sosial
Copyrights © 2026